Hari Onde

Share to 
Administrator | Selasa, 22 Desember 2020

                                                      Hari Onde

                                                                              Oleh : Sarifah Mudaim  Kelas Penulisan Kreatif                                 

 

Aku menuruni sebuah tangga rumah yang sekeliling temboknya berwarna putih lengkap dengan ornamen hiasan dinding dan hordeng dengan warna yang senada. Aku berhenti di ruang tamu dengan sofa panjang yang terbuat dari busa dan meja yang tertata rapih. Di atas meja terdapat vas bunga anggrek juga bunga sedap malam, aku duduk di kursi menciumi bunga sedap malam, dan sepertinya aku mengenali rumah ini. Tetapi... Tunggu dulu, aku sudah enam bulan meninggalkan tempat ini dan kenapa pagi ini aku terbangun dengan aroma dupa yang memenuhi ruangan kamar tidurku? Aku beranjak dari tempat tidur mencari tahu dari mana aroma dupa itu berasal. Bukankah di kampung halaman kelahiranku tidak ada dupa?, karena memang aku terlahir dari keluarga muslim yang jauh dari kata kemenyan dan bau-bauan lainya, apalagi dupa yang merupakan media untuk sembahyang dari warga beretnis Tionghoa yang berkeyakinan Buddha .

Ini rumah Mamih. Ya, aku menyebutnya Mamih sebab aku menganggap dia sebagai ibu angkatku, dan kebetulan juga sudah tinggal menetap bersama lebih dari enam tahun. Aku tahu betul kebiasaan yang Mamih lakukan setiap pagi  sebangun dari tidur. Mamih pasti menyalakan dupa sembahyang di depan altar yang ia buat di depan jendala kamarnya menghadap ke luar jendela. Setelah beberapa saat aku duduk dan menciumi bunga di atas meja, aku naik keatas lantai tiga sebab kamar Mamih terletak di atas sana, "Mihhhh.... Mamih…." aku berkali-kali memanggilnya tapi tidak ada jawaban. Aku ketuk pintu kamarnya namun yang kudapati hanya sepi senyap, lalu kuberanikan diri untuk memegang daun pintu yang ternyata sudah terkunci. "kok Mamih sudah pergi, sih? Kenapa dia tidak berkabar lewat telfon atau WhatsApp terlebih dahulu kepadaku seperti biasanya? Aku kesal sebab tidak biasanya Mamih seperti ini. Aku turun ke lantai dasar untuk memastikan mobil yang terparkir di parkiran teras rumah masih ada atau tidak ada. Aku menuruni tangga setengah berlari berharap aku tidak ditinggal sendirian di rumah.

Lantai dasar rumah Mamih bisa disebut sebagai perpustakaan sebab begitu banyak dipenuhi buku yang berjejer. Ada sekitar tiga lemari kayu besar dan beberapa etalase kaca yang semuanya berisikan buku. Di tengah-tengah ruangan ada dua meja dan kursi yang berjauhan; yang satu biasa digunakan Mamih menjadi tempat bekerja, membaca, menulis dan lain sebagainya, sedangkan satu meja dan kursi lainnya Mamih sediakan untukku. Di bawah tangga lantai dasar juga terdapat altar yang disiapakan untuk sembahyang dengan dinding yang  dilengkapi beberapa gambar Dewi Kuanim yang terpampang jelas di vigura besar di dinding tengah ruangan. Aku tengak-tengok mencari Mamih namun tidak kutemukan. Aku lari menuju pintu dan aku terhenti di depan mejaku, di sana sudah tersedia kopi yang masih mengepulkan asap yang ditemani telor rebus dan beberapa cemilan lainnya. Ada selembar kertas juga yang terselip di antara cemilan.

Aku ke pasar sebentar untuk belanja keperluan guna mempersiapkan acara esok hari. Ya,  besok pagi tanggal 21 Desember itu bertepatan dengan perayaan Onde. Kamu sarapan dulu, nanti kita bikin Onde bareng. Nggak usah ngambek ke pasar, capek loh. Belum lagi berat bawa belanjaan banyak, kalau mau nitip jajanan pasar telpon aja. Telponnya ke nomor XL HP Nokia jadul yang aku bawa.

                   Mamih ❤

Setelah membaca tulisan Mamih yang tedapat di dalam kertas tersebut, aku langsung mengambil handphone menelponnya, akan tetapi  telpon masuk bertulisan Mami di layar handphone terputus karena bunyi alarm.

Dreeeettt..... Dreeeettt.... Dreeeettt….

“Nitaaaaaa.... Alarmmu itu bunyi terus, loh. Buruan dimatiin! Suaranya berisik sekali. Bunyi berulang kali tapi nggak bangun-bangun.” Suara ibuku lantang terdengar. Aku kaget terbangun seperti orang kebingungan dan ternyata aku hanya mimpi. Aku raih hpku, dan kulihat tanggal menunjukkan tanggal 21 Desember dari layar hp. Aku beranjak menghampiri Ibu yang sedang berada di dapur.

"Begadang masak makanan beginian, belum selesai di tinggal ke kamar eeh ternyata tidur. Makanan apa coba kaya gini? Orang rumah nggak ada yang doyan." Ucap ibuku meluapkan kekesalannya padaku. Aku melongo melihat masakan yang di dalam panci yang sedari tadi diaduk-aduk Ibu.

"Ibu masak Onde? Buat apa ibu masak Onde? Memangnya Ibu tahu resep dan cara memasaknya? Ini, kan, makanan khas Chinese untuk perayaan hari Onde,” panjang lebar aku menjelaskan.

"Dasar bocah jembung ngerjain ibunya mulu. Bukannya kamu semalaman suntuk membuat sendiri makanan ini? Sekitar jam tiga pagi Ibu bangun, dan kamu meminta tolong ke ibu buat ngebantuin.”

Pyaaaaaarrrr... Irus yang aku pegang untuk mengaduk terjatuh di lantai. Perayaan onde merupakan salah satu perayaan rutin orang China yang dilakukan setiap Desember. Perayaan ini dilaksanakan oleh orang China, bahkan yang telah bermigrasi dan menetap di negara lain. Meski tak semeriah Imlek, perayaan Onde ini memiliki sejarah dan tetap dilestarikan. Perayaan Onde ini biasanya dilakukan pada tanggal 21 atau 22 Desember. Kalau di China, itu dilakukan untuk merayakan puncak musim dingin dengan  memakan makanan hangat, salah satunya Onde-onde. Orang Tionghoa biasa bilang Tan Cik yang artinya dingin dan puncak. Pada zaman Dinasti Qing (1644-1911 M) perayaan Onde menjadi salah satu perayan penting di China dan daerah migrasi, tak terkecuali Indonesia.

 

Berbeda dengan Imlek atau Tahun Baru China yang menjadi ajang silaturahmi, perayaan Onde hanya dirayakan oleh keluarga. Tradisinya adalah berkumpul bersama, membuat Onde, menikmatinya, dan berdoa bersama. Onde yang berbentuk bulat melambangkan keutuhan, persatuan, dan harmonisasi keluarga. Onde juga melambangkan lambang keseimbangan alam yakni Yin dan Yang. Onde umumnya terbuat dari tepung beras tanpa isi, melambangkan eratnya ikatan persaudara, dan air gula manis melambangkan hubungan antar keluarga yang manis. Ada berbagai kepercayaan mengenai makanan Onde yang menarik. Di antaranya saat makan onde seseorang akan menyesuaikan dengan usia kemudian menambahkan satu. Lambang pengharapan agar usia bertambah lagi. Kepercayaan lainnya, jika ada anggota keluarga yang hamil kemudian membakar Onde, nah, kalau (Onde) pecah maka bayinya berjenis kelamin perempuan, kalau tetap utuh berjenis kelamin laki-laki.

Selamat hari onde, selamat berkumpul bersama keluarga. Semoga kita semua senantiasa diberi umur panjang, keharmonisan serta keutuhan keluarga. Love you Mamih ❤.

 

Sarifah Mudaim lahir di Indramayu. Perempuan penikmat kopi, seneng ngelamun tapi nggak bisa bikin puisi, dan tidak begitu suka senja apalagi filosofi. Bisa disapa melalui akun Facebook Sarifah Mudaim, atau instagram @sarifah104, bisa juga menyapa lewat surel; sarifahmudaim104@gmail.com.

Publish By : Fathul Ilmi N, S.IP