Tingkatkan Indeks Literasi Perpusnas dan Kemendagri Ajak Semua Pihak Bersinergi

Share to 
Administrator | Senin, 29 Maret 2021

Bukan perkara mudah meningkatkan budaya literasi masyarakat. Penguatan budaya literasi memerlukan kerjasama dan gotong royong dari berbagai pihak. Banyak kendala dihadapi, terlebih dengan situasi pandemi seperti saat ini. Akses masyarakat terhadap bahan bacaan berkualitas menjadi terhambat.

Itulah sedikit yang dikatakan Muhammad Syarif Bando, Kepala Perpustakaan Nasional RI dalam paparannya pada kegiatan Rapat Koordinasi Perpustakaan Nasional Tahun 2021, Senin (22/03/2021). 

Mengusung tema “Integrasi Penguatan Sisi Hulu dan Hilir Budaya Literasi dalam Pemulihan Ekonomi dan Reformasi Struktural”, kegiatan diikuti mulai pustakawan, pegiat literasi, pemangku kebijakan di berbagai tingkatan, serta para akademisi. 

Rakornas kali ini terpaksa dilaksanakan secara daring, mengingat pandemi belum berakhir. Namun itu tidak mengurangi antusias peserta. Terbukti kegiatan yang dilaksanakan selama dua hari tersebut diikuti oleh lebih dari 10.000 orang.

 

 

Syarif Bando dalam sambutannya mengatakan, berbicara akses bahan bacaan masyarakat, hal yang perlu diperhatikan adalah ketersediaan bahan bacaan.

Pria kelahiran Enrekang, Sulawesi Selatan tersebut menambahkan, bahwa Indonesia saat ini sangat amat kekurangan bahan bacaan. 

“Dengan jumlah penduduk Indonesia sekitar 270,20 juta jiwa serta ketersediaan bahan bacaan yang ada yaitu kurang lebih hanya 22,38 juta eksemplar, hingga memunculkan rasio nasional sebesar 0,09. Inilah hal paling mendasar mengapa budaya baca rendah”, tambahnya. 

Konsolidasi dan koordinasi antar pemangku kebijakan di berbagai tingkatan harus intens dilakukan. Penambahan informasi berbasis lokal konten yang di dalamnya tertuang potensi sumber daya di daerah, dapat menjadi solusi . 

“Para Kepala daerah diharapkan bisa mendorong dan memotivasi masyarakat untuk menyediakan sumber bacaan berkualitas berbasis lokal konten, sehingga dapat berdampak pula pada peningkatan literasi, inovasi, dan kreativitas masyarakat serta mewujudkan masyarakat berpengetahuan dan berkarakter”, tegasnya. 

Sejalan dengan dengan Syarif Bando, staf ahli bidang Pemerintahan Kemendagri, Suhajar Diantoro menegaskan, jika keterbatasan bahan bacaan menjadi salah satu faktor yang membuat angka indeks literasi Indonesia masih belum bisa beranjak. 

“Indonesia merupakan negara ke-dua dengan jumlah perpustakaan terbanyak di dunia setelah negara India. Namun, itu tidak dibarengi dengan tersedianya koleksi bahan bacaan yang dimiliki”, tegasnya.

Tambahnya, pemerintah daerah harus membangun kerjasama dengan berbagai lembaga untuk turut mengatasi kendala tersebut. Mengingat, pemerintah menargetkan nilai kegemaran membaca Indonesia bisa naik menjadi 63,3 pada tahun 2022. 

“Kunci sukses terwujudnya cita-cita bersama ini adalah sinergitas berbagai pihak, antara pemangku kebijakan dan juga masyarakat. Dengan demikian, dapat menghasilkan sumber daya manusia berkualitas dan berdaya saing hingga berdampak pula pada kesejahteraan”, pungkasnya.

Writed :  Noval Arisandi | Pustakawan Perpusda Indramayu