Membangun Pondasi Kebhinekaan Kaum Millenial Ditengah Gempuran Era Globalisasi

Share to 
Administrator | Senin, 01 Juni 2020

 

Kita Semua Pancasila, Kita Semua Indonesia”. Kata yang sering kita temukan dan dengarkan di berbagai media, mulai dari instansi pemerintah hingga tempat-tempat umum, ranah orang-orang berkumpul dan bicara ngalor-ngidul membahas topik hangat bangsa mereka. 

Rasanya tidak akan pernah lelah untuk terus menggaungkan bahwa hidup bernegara dengan keberagaman yang ada, dengan segala heterogenitas yang hidup didalamnya, ras, suku, agama, bahasa, bahkan budaya lokal membutuhkan pengorbanan ekstra. Menjaga situasi dan kondisi tenteram, hidup damai berdampingan satu dengan yang lain tentu bukan perkara mudah.

Bersyukur, para pendahulu telah menganugerahkan sebuah perisai yang kita gunakan sebagai pedoman dalam berbangsa dan bernegara. 

Pancasila sebagai dasar ideologi bangsa dan negara Indonesia, bukan terbentuk secara mendadak serta bukan hanya diciptakan oleh seseorang seperti ideologi-ideologi di belahan dunia lain, melainkan melalui proses panjang dengan menggali nilai-nilai yang dimiliki bangsa Indonesia dan itu bersumber pada budaya bangsa Indonesia. (Kaelan, 2015:37) 

Akan tetapi, melihat fakta yang ada sekarang wajar sebagaian dari kita merasa miris dan coba ‘menepuk jidat’ sendiri. Ditengah kencangnya gempuran globalisasi dengan teknologi sebagai senjata utama, kaum millenial yang digadang-gadang bakal menjadi suksesor negeri ini mencoba mebaur, melapangkan seluruh jiwa untuk menerima begitu saja kondisi yang terjadi.

Lantas sejatinya, tahukah mereka arti dibalik kalimat ‘Kita Semua Pancasila, Kita Semua Indonesia’ diatas? terutama para kaum muda yang mentasbihkan diri sebagai kaum tercanggih saat ini?

Kemajuan teknologi yang membuat semuanya menjadi serba instan, ditambah ucap manis oknum yang menebar retorika demi meningkatkan pundi-pundi deposit, tanpa disadari telah membentuk karakter mereka menjadi pribadi matrealis.

Bukan untuk menyalahkan jaman dengan segala ‘embel-embel’ nya, karena tidak dipungkiri juga, demikian dampak arus globalisai ini bangsa menjadi lebih berkembang. Perekonomian bangsa semakin hari semakin berkembang pesat, tingkat pendidikan hingga tingkat produktivitas rakyatnya juga semakin tinggi. Di berbagai sudut muncul ahli-ahli di bidangnya, muncul orang-orang cerdas yang mengharumkan nama keluarga bahkan negara.

Namun, arus teknologi yang demikian deras masuk tidak diterima dengan kedewasaan pemikiran mereka, sehingga terjadi degradasi pemahaman akan definisi persatuan. Maklum, mereka terlahir dimana sekitar hanya berorientasi pada hasil, bukan proses. 

Sebagai contoh, ada beberapa golongan tertentu memaksakan pendapat bahwasanya persatuan itu harus satu dan sejenis, bukan persatuan yang kita lihat beberapa dekade lalu yang menunjukkan bahwa persatuan itu terbentuk atas beberapa perbedaan yang menyatu dan berdampingan sehingga timbul satu kekuatan yang kekal. 

Indonesia terdiri atas tujuh belas ribu lebih pulau dan sekitar 1.340 jenis suku ada di bumi pertiwi ini. Melihat keberagaman yang ada tersebut, sepintas terpikir di benak, bagaimana kita bisa menjalankan kehidupan ini hingga hampir 72 tahun Indonesia meredeka?

Terlahir sebagai bangsa yang bhineka dan itu telah berlangsung hampir 72 tahun lamanya. Namun, akhir-akhir ini seperti kita lihat segelintir kelompok yang berlomba, berseteru untuk mengukukuhkan diri dan kelompoknya sebagai yang paling berjasa atas apa yang telah terjadi di negeri ini. Isu-isu kebhinnekaan kerap menjadi topik utama pembahasan berbagai media. 

Tidak dipungkiri memang saat ini bangsa sedang menghadapi cobaan yang lumayan serius. Cobaan mengenai rendahnya toleransi, mengenai rendahnya pemahaman makna persatuan serta gotong royong, rendahnya penghargaan antar pemeluk agama, serta mudahnya kita terhasut oleh berita yang belum jelas sumber dan asal-usulnya.

Lantas, apa yang bisa kita lakukan melihat keadaan yang demikian?

Menanamkan kembali rasa ke-bhinekaan di kalangan millenial merupakan suatu hal yang bisa dikatakan gampang-gampang susah. Banyak orang yang masih beranggapan bahwa, sekolah merupakan tempat yang dirasa paling tepat untuk membentuk kembali karakter dan jiwa persatuan mereka. 

Pemikiran tersebut bisa saja dibenarkan, namun pada konteks kali ini yang kita tekankan kembali adalah peran keluarga, terutama orang tua sebagai lingkungan terdekat mereka (Soedarsono, 2008:30). Tanpa mengesampingkan peran pentingnya, sekolah hanya menjadi sebuah sarana tambahan sekaligus pembentuk pribadi yang berwawasan. 

Di sekolah, siswa-siswi diajarkan teori mengenai toleransi menggunakan metode belajar sedemikian rupa  agar mereka dapat menyerapnya dengan baik. Selanjutnya, implementasi atas teori-teori yang diperoleh siswa-siswi tersebut sepenuhnya menjadi tanggung jawab keluarga. Orang tua berperan sebagai korektor yang tepat bagi mereka karena sudah tentu memiliki perasaan emosional yang tinggi.

Masyarakat di lingkungan sekitar tempat tinggal pun harus ikut andil dalam hal ini, karena di situ lah tempat mereka berdiskusi, tempat mereka bersosialisasi dan kemungkinan besar di situ juga tempat mereka menemukan perbedaan untuk pertama kalinya.

Dari penjabaran diatas dapat disimpulkan bahwa, perlu adanya kerjasama antar elemen masyarakat demi terciptanya suatu generasi yang berjiwa nasionalisme. Dibutuhkan sinergi dari beberapa unsur untuk saling melengkapi perannya. Dan, sampai kapanpun ini akan menjadi PR kehidupan bagi semua pihak guna menjaga keutuhan negara dan bangsa. 

Kaelan, M.S. 2015. Liberalisasi Ideologi Negara Pancasila. Yogjakarta: Paradigma

Soedarsono, Soemarno. 2008. Membangun Kembali Jati Diri Bangsa. Jakarta: Elex Media Komputindo 

Penulis :  Noval Arisandi,  Am.d   / Editor :  Fathul Ilmi N, S.IP