Lebih Jauh Tentang Literasi

Share to 
Administrator | Jum\'at, 10 April 2020
Dokumentasi Layanan Perpustakaan Keliling ke sekolah terjauh dan tertinggal di Indramayu Tahun 2020

 

Dalam kurun waktu empat tahun terakhir, dunia pendidikan Indonesia sedang gencar untuk menggalakkan Gerakan Literasi. Kondisi tersebut tidak terlepas dari hasil penelitian yang dilakukan oleh suatu lembaga literasi dunia pada bulan Maret tahun 2016 lalu, dimana menempatkan Indonesia pada urutan ke 60 dari 61 negara mengenai tingkat membaca masyarakatnya.Tentu kondisi yang sangat mengkhawatirkan, mengingat empat dekade kebelakang kita bisa dibilang “Macan Asia” dalam dunia pendidikan ini.

Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pun bergerak melalui kebijakan penggalakkan gerakan literasi yang dituangkan dalam Permendikbud Nomor 21 Tahun 2015 mengenai Penumbuhan Budi Pekerti, yang artinya bukan hanya sekadar gerakan Nasional saja. Melainkan sudah menjadi kewajiban segala bidang kehidupan untuk melaksanakan tanpa alasan suatu apapun.

Sebelum berbicara tentang gerakan literasi, terlebih dahulu kita harus mengetehui makna dari literasi itu sendiri. Selama ini, beberapa orang mengetahui bahwa yang dimaksud literasi adalah kemampuan seseorang dalam membaca dan menulis. Jadi, kegiatan yang mereka lakukan sebagai dukungan gerakan literasi nasional yaitu  dengan membaca dan menulis saja.

Dokumentasi Kegiatan Perpustakaan Keliling ke Sekolah Terjauh dan Tertinggal di Indramayu Tahun 2020

 

Sebagai contoh kasus, disebuah sekolah mewajibkan semua siswanya untuk membaca 10 – 15 menit buku non pelajaran sebelum pelajaran wajib dimulai. Setelah waktu yang diberikan untuk membaca selesai, kemudian siswa bergegas untuk menyiapkan diri menghadapi mata pelajaran selanjutnya. Kegiatan pun berjalan rutin setiap hari.

Lebih jauh mengenai arti literasi, National Institute for Literacy, mendefinisikan literasi sebagai kemampuan individu untuk membaca, menulis, berbicara, menghitung dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian yang diperlukan dalam pekerjaan, keluarga dan masyarakat (dikutip dari laman http://www.wikipendidikan.com/2016/03/pengertian-definisi-makna-literasi.html). Sementara itu, masih dikutip dari laman yang sama UNESCO mengatakan bahwa literasi adalah seperangkat keterampilan nyata – khususnya ketermapilan kognitif membaca dan menulis yang terlepas dari konteks di mana keterampilan itu diperoleh dan dari siapa memperolehnya.

Meminjam kutipan sahabat saya sewaktu dulu bekerja di Perpustakaan Sekolah yaitu Bapak Khoriun Nif’an, S.Pd, salah seorang guru pengampu mata pelajaran Bahasa Indonesia di SMA Negeri 8 Malang  beliau berpendapat, bahwa literasi dimaknai sebagai kemampuan seseorang dalam mencari bahan bacaan untuk mereka baca dan kemudian sebagai hasil dari membaca tersebut mereka membuat tulisan.

Dari beberapa pendapat diatas, maka dapat kita ketahui bahwa makna literasi tidak terbatas pada kemampuan seseorang dalam membaca dan menulis saja. Literasi dikatakan sebagai kemampuan seseorang dalam mencari suatu sumber informasi yang bermanfaat untuk mereka baca guna memperoleh pengetahuan/wawasan baru. Tidak berhenti disitu saja, apa yang mereka dapatkan tersebut kemudian mereka utarakan kembali dengan kemampuan menulis/berbicara mereka masing-masing untuk selanjutnya dapat dimanfaatkan orang lain.

Tentu menjadi nilai lebih, dimana dari kegiatan literasi ini kemampuan yang didapat seseorang tersebut tidak berhenti disitu saja, tetapi apa yang telah mereka dapatkan bisa dimanfaatkan pula oleh orang lain. Penulis juga berharap budaya literasi di Kabupaten Indramayu semakin menjadi kebutuhan masyarakat serta kami mengajak kepada stakeholders terkait untuk saling mendukung dalam menumbuhkembangan minat dan budaya baca masyarakat indramayu.

Akhir kata menurut pandangan penulis, sejatinya tidak ada yang salah dalam mengartikan literasi itu sendiri, mengingat bidang keilmuan yang tentu saling berkaitan antara satu sama lain, serta pandangan individu orang selalu berbeda. Justru, apa yang dilakukan dalam contoh sekolah X diatas menjadi langkah yang baik untuk memulai menanamkan budaya baca dalam diri masyarakat, khususnya siswa-siswi di sekolah. Diharapkan, perhatian terhadap gerakan literasi ini tidak berhenti pada 1 atau 2 tahun ke depan saja. Namun bisa sampai 5 tahun kedepan, bahkan berlanjut pada tahun-tahun selanjutnya hingga budaya literasi ini mendarah daging di masyarakat Indonesia. Writed :  Noval Arisandi, Am.d / Editor :  Fathul Ilmi N, S.IP